Tuesday, March 22, 2011

Mencari jiwa di dalam jiwa...

Asalnya aku post dalam akuyangakut sekitar 2009. Oleh kerana, puisi ini masih relevan dengan senario diri sekarang, aku tampal di sini juga. Namun, perspektifnya telah berbeza...





Dewaruci

Alangkah busuk dengkinya Pandawa,
Para Kurawa itu menyuruh Bima pergi,
Mencari air hidup suci di gua Condromuka,
Di sebuah hutan yang jauh,
Bima membongkar segala pohonan,
Merusak seluruh belantara demi air itu,
Dan dengan demikian ia gugah amarah,
Dua raksasa bertarung hebat namun kecundang,
Lalu merungkai kutukan Batara Guru,
Dua raksasa kembali kepada wujud sebenar,
Iaitu Indra dan Bayu,
Lantas sangkeng rasa terima kasihnya,
Kepada Bima dikatakan bahawa,
Air hidup itu tiada di belantara.


Kembalilah Bima kepada Durna dengan curiga,
Dikata kini air hidup di dasar samudera,
Pergilah Bima walau bergalang nyawa,
Lalu menceburkan diri penuh berani,
Dalam gelombang-gelombang bergemuruh,
Sesampai di tengah-tengah samudera,
Disambut berang naga raksasa Nemburnawa,
Tapi bukan lawannya,
Si naga mati disobek-sobek Bima,
Dengan kuku keramat Pancanaka,
Membuatkan Bima merasa amat lelah,
Membiarkan diri didorong kesana kemari,
Oleh ombak-ombak samudera,
Lalu segalanya menjadi amat sepi.
Pada saat itulah,
Tiba-tiba muncul wujud kecil persis dirinya,
Dewaruci yang sedikit kerdil,
Lalu ajak Bima memasuki batin dirinya,
Dari telinga kirinya,
Bima curiga namun taat,
Tanpa sulit, tubuh besarnya muat,
Memasuki batin Dewaruci yang kecil,
Semula ia menemukan diri dalam kekosongan mutlak,
Hening tanpa batas,
Namun sesudah beberapa detik,
Ia melihat kembali matahari, tanah, gunung dan laut.
.........
Dalam kekosongan tanpa batas,
Tidak atas dan bawah,
Tidak ada arah mata angin,
Kekosongan itu, awang-uwung,
Akhirnya,
Bima temukan sinar yang terang,
Lalu satu persatu diperlihatkan,
Jagad segala wujud dalamnya.


Lalu Bima mengerti akan dirinya,
Akan hakekat air hidup yang dikatakan suci,
Hanya helah para Kurawa cuma,
Padahal sebenarnya,
Kehidupannya itu telah lama mati,
Dan ia hidup dalam kematiannya.


Lalu dengan kekuatan yang tak terkalahkan,
Bima meninggalkan Dewaruci,
Dalam ketenteraman batin,
Bima pulang bertemu adik-kakaknya,
Dengan seksama ia sembunyikan apa yang terjadi.


Sebagaimana kulit memuatkan kacangnya,
Begitu kisah Dewaruci memuat inti bijaksana,
Dalam mencari kesempurnaan hidup,
Bahwa sumber air itu tidak diketemukan dalam alam luar,
Bahkan dalam diri manusia sendiri.



[Nizam.Ariff - 19.03.2009]





.

No comments: