.
Apakah masih ada maaf tersisa
Atau maaf bererti kehilanganmu
Selama-lamanya?
Apakah itu hukuman buatku
Atas perkara yang kau lakukan
Tanpa aku tahu?
Apakah jalan ini seterusnya
Aku langkahi sendirian
Hingga ke hujung?
Dimanakah kau?
Dimanakah kau?
Dimanakah kau?
Dimanakah kau ketika aku
berada dimana-mana?
.
Monday, December 15, 2014
Tuesday, September 23, 2014
Aku Spontan 1
.
Merenung jauh, melihat bayang awan
Meneduh bumi, aku syak hujan nanti
Angin bertiup, bertitipkan pesan
Itu semua rupa-rupanya khayalan
Berdenyut nadi masih, degupan tak sekata dalam dada
Aku picit-picit dahi yang tak sakit, entahlah kenapa agaknya
Bergumpal rasa ada dalam dada, resah tanpa kata
Berdendam lagikah jiwa?
Tidak, aku doakan tidak
Cukuplah tahun-tahun kelam itu pergi
Persilakan bibit terang bersinar redup dalam hati
Siapa lagi jika bukan diri sendiri merawat hati?
Harapan entah ke mana perginya
Aku turutkan rasa dan naluri jiwa
Memandang mendung di kaki horizon
Kemudian petir menerangi dunia
Tofan kasar menerjah layar
Rabaklah ia, kolek ini beroleng
Namun naluri selalu berpesan
Segunung mana ombak, sekencang mana tofan
Itu biasa dalam mana-mana kehidupan
Berenang bila karam, berhanyut bila penat
Usah diharap pada keajaiban, jika ada ada, jika tiada tiada
Apalah diharap pada tubuh kolek semiskin ini
Sekadar menampung berat dosa sekelumit pahala tatkala berlayar pergi
(Spontan ...bersambung)
.
Merenung jauh, melihat bayang awan
Meneduh bumi, aku syak hujan nanti
Angin bertiup, bertitipkan pesan
Itu semua rupa-rupanya khayalan
Berdenyut nadi masih, degupan tak sekata dalam dada
Aku picit-picit dahi yang tak sakit, entahlah kenapa agaknya
Bergumpal rasa ada dalam dada, resah tanpa kata
Berdendam lagikah jiwa?
Tidak, aku doakan tidak
Cukuplah tahun-tahun kelam itu pergi
Persilakan bibit terang bersinar redup dalam hati
Siapa lagi jika bukan diri sendiri merawat hati?
Harapan entah ke mana perginya
Aku turutkan rasa dan naluri jiwa
Memandang mendung di kaki horizon
Kemudian petir menerangi dunia
Tofan kasar menerjah layar
Rabaklah ia, kolek ini beroleng
Namun naluri selalu berpesan
Segunung mana ombak, sekencang mana tofan
Itu biasa dalam mana-mana kehidupan
Berenang bila karam, berhanyut bila penat
Usah diharap pada keajaiban, jika ada ada, jika tiada tiada
Apalah diharap pada tubuh kolek semiskin ini
Sekadar menampung berat dosa sekelumit pahala tatkala berlayar pergi
(Spontan ...bersambung)
.
Subscribe to:
Posts (Atom)